Minggu, 22 November 2015


BERHENTI MENGGAPAI SESUATU YANG MEMANG DITAKDIRKAN BUKAN UNTUK KITA


Dear MR R.H

Kamu dengerin aku yah,, aku bukannya ga mau ngejar dan ga mau nyariin kamu lagi kaya kemarin kemarin.
Aku cuma pengen terbiasa dengan ini. Sampe akhirnya jadi terbiasa. Lagian bukannya kamu yang minta aku buat pergi? Kepergian kamu yang tiba tiba itu pertanda bahwa kamu mengakhiri semuanya.
Perasaan aku belum berubah, masih sama ga ada yang kurang.
Yang berubah itu, cuma sekarang aku lagi maksain hati supaya bisa sinkron sama otak supaya berhenti ngejar kamu.
Karna mungkin pada kenyataannya kamu terlalu asik aku kejar, sampe kamu lupa bahwa aku udah berhenti.

Ibaratnya itu selama aku ngejar itu aku pernah kesandung, ketabrak, keserempet, jatuh, kepeleset tapi kamu ga pernah noleh sedikitpun.
Kamu terus ajjah lari didepan sambil ketawa ketawa dan bangga karna ada cewe bodoh yang lagi ngejar kamu.
Ibaratnya lagi, kadang kamu larinya kenceng banget sampe aku susah ngejarnya, tapi kadang kamu larinya pelan banget sampe aku "hampir bisa" ngegapai kamu. Trus kamu malah lari kenceng banget sampe aku kecapean ngejar kamu, dan setelah aku sadar sama keadaan aku bahwa aku luka" dan perlu diobatin.

Aku harus berhenti.

Kamu keasikan lari bahkan kamu sampe ga tau kalo ga ada aku lagi dibelakang kamu. Karna memang aku harus berhenti.
Kaya kupu-kupu semakin dikejar semakin dia terbang jauh, tapi kalo kita diemin ajjah dia akan menghampiri dan hinggap dengan sendirinya.

Tapi aku ga mau berharap kamu kembali lagi. Karna ketika aku sudah cape cape ngobatin luka luka aku lalu kamu kembali untuk membuat luka yang baru.
Kamu kan ga tau, aku ngobatin luka aku sendirian, tanpa bantuan siapapun.
Aku yakin suatu saat nanti akan datang seseorang dengan membawa segenggam penawar luka ditangannya.
Dan orang itu ga mungkin kamu.


Kamis, 19 November 2015


MENIKMATI SKENARIO TUHAN :')


Mungkin kalian sudah bosan melihat tulisanku yang selalu membahas tentang dia. Itu terserah, karna memang seperti inilah keadaannya..
Bukan perkara yang mudah saat membuka hati tapi tanpa siapapun. Aku ingin sekali melangkah, tapi hati rasanya belum siap. Aku masih berharap, semoga ada sebuah keajaiban. Ada cahaya indah yang bisa membawanya kemari.

Kadang ingin rasanya seperti anak kecil, yang bisa merengek meminta sesuatu kepada Allah. Walaupun aku tau bukan saatnya lagi untuk seperti itu. Entah kenapa hati ku masih yakin dia akan kembali. Karena pada dasarnya semuanya memang belum selesai. Hatiku hanya berkata semoga..semoga..semoga...

Hidup itu memang penuh misteri ya, bahagia ataupun bersedih adalah suatu hal yang lumrah. Selama ini dia yang menjadi sumber kebahagiaanku. Tapi sekarang, dia pula sumber kesedihanku.

Aku ikhlas dengan segala ketentuan dari-Nya. Aku pasrah dengan semua takdirku. Aku pasti bisa melewati semuanya, Allah selalu mempunyai kejutan yang indah tepat pada waktunya.

Aku siap dengan apa yang akan terjadi nanti. Tidak ada yang perlu aku takutkan. Semua yang terjadi sudah dalam Rencana-Nya. Dan segala rencananya itu pasti terbaik, karna dia sang pemilik skenario yang sesungguhnya.

Aku pernah melalui yang seperti ini dengan baik. Aku pasti bisa karna aku kuat. Aku wanita cerdas yang tangguh. Kemandirianku yang telah mengajari aku untuk menjadi wanita yang kuat. Aku akan menemukan kebaikan dari semua kejadian ini, itu pasti.


Rabu, 18 November 2015

ASMARA


Sendiri, ku kemas air mata dipipi
Tak percaya ku yang tlah terjadi
Cintamu kini telah terbagi
Haruskah cinta aku akhiri
Cukup sampai disini

Tak mungkin, aku berpaling dan menyesali
Tercabik hati ingin meronta
Jangan kau rajam gairah yang ada
Haruskah aku mengemis cinta
Untuk menghilangkan duka

Asmara,, kemana lagi akan ku cari?
Siapa yang kan mengusir sepi?
Disaat ku sendiri,,

Asmara, mungkinkah kau sampaikan padanya?
Walau hatiku penuh derita
Aku masih slalu cinta..


Dan lagu ini bener-bener mewakili perasaanku saat ini, entah sudah berapa puluh kali aku memutar ulang lagu ini. Malam ini aku hanya ingin menangis,, ya menangis... sendiri didalam kamar, tak ada siapapun yang tau,, kecuali Allah...

Walau hati ku penuh derita, aku masih slalu cinta

Taukah kamu wahai pria penguasa hatiku, aku adalah wanita yang sangat keras kepala,, hanya kepadamu keegoisan ku runtuh,, sadarkah kamu,, ah kurasa tidak, entah hatimu berada dimana, mungkin bisa jadi kau seorang pria yang tak berhati.
Bukankah kau yang datang dan menawarkan diri untuk mencintaiku??
Mengapa saat ini kau lupa?? Segitu saja pengorbanan mu, sedangkan aku selalu berusaha untuk meyakinkan kamu bahwa rasa ini benar benar ada dan tulus...

Semoga kau puas untuk apa yang sudah kau lakukan, semoga kau senang karna berhasil mempermainkanku... aku takkan berdoa pada tuhan untuk mengirimkan karma kepadamu,, aku janji..
Aku akan selalu berdoa kebaikan untuk mu,, karna cinta ini tulus,, aku takkan tahan jika kau tersakiti walaupun hanya seujung kuku,, walau kini kau tak bisa ku miliki, walau kau tak bisa untuk ku rengkuh lagi atau pun hanya sekedar tuk melihat kau tersenyum.. aku ikhlas 

Dear MR R.H, aku ingin sekali berterima kasih kepadamu, walau pun aku tau, tak mungkin kau akan membaca tulisan ini, semoga saja ada yang menyampaikannya kepadamu... ku harap kau selalu bahagia, mendapatkan cinta yang tulus seperti cintaku... mendapatkan mata yang baik sebaik seperti aku memandangmu... mendapatkan tangan yang hangat sehangat aku memelukmu.. semoga saja

Aku berharap kau bisa mengabariku ketika kau benar benar menemukan dia yang kau cinta dan mencintaimu juga,, 





Kamis, 12 November 2015



Kamu berbeda dari yang lainnya. Kamu sederhana, apa adanya, misterius, dan sangat sulit untuk ditebak. Wajahmu bukan pahatan seniman kelas dunia. Ataupun buatan pabrik yang sempurna. Aku tak memikirkan bagaimana penampilanmu. Atau bagaimana caramu menata rambutmu. Aku mencintaimu karna begitulah kamu. Kamu yang sulit ku tebak namun terlihat manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang begitu menggemaskan dalam keadaan yang begitu sulit untuk ku jelaskan. Aku mencintaimu sampai sekarang pun begitu.
Sadarkah kamu??



Sabtu, 07 November 2015


Jika kau bukan seseorang itu, Kenapa jiwaku merasa gembira hari ini?
Jika kau bukan seseorang itu, Kenapa tanganmu begitu pas denganku?
Jika kamu bukan milikku, mengapa hatimu menjawab panggilanku?
Jika kamu bukan milikku, mengapa hatiku memiliki kekuatan yang besar untuk tetap bertahan?
Jika aku tak membutuhkanmu, kenapa aku selalu menangis disetiap malam?
Jika aku tak membutuhkanmu, kenapa namamu begitu menggema di kepala ku?
Jika kau bukan untukku, kenapa perpisahan ini meruntuhkan jiwa ku?
Jika kau bukan untukku, kenapa dimimpiku aku menjadi kekasihmu?

Aku tak tau kenapa kau begitu jauh saat ini
Namun ku yakin semua ini benar
Kenapa kau tak mau melewati semuanya?
Kau yang selalu ada dalam setiap bait doaku
Apakah kau tak merasakannya?

Aku tak ingin lari, tapi aku tak kuat menahannya
Aku tak mengerti..
Jika kamu tak ditakdirkan untukku, kenapa aku merasa kamulah takdirku?
Adakah cara lain agar kau selalu berada didekapan ku?
Karena jiwa dan ragaku begitu merindukanmu

Aku selalu memohon kekuatan agar aku selalu berdiri tegak
Karena aku mencintaimu, tak peduli ini salah atau benar
Meski aku tak bisa bersamamu saat ini
Meski ragamu tak pernah bisa lagi ku rengkuh
Meski hatiku tak pernah ada disisimu..
Aku tak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa depanku nanti..






Jumat, 06 November 2015

MASIH TENTANG KAMU


RANGKUMAN TENTANG KAMU, YANG TAKKAN PERNAH BISA UNTUK AKU TERJEMAHKAN.

Dear Mr.R.H
Berapa lama pun waktu yang ku miliki ketika bersamamu semua sangat berharga disetiap detiknya.
Bahkan jika mungkin kita bersamapun, seluruh menit yang ku punya dalam hidupku, takkan pernah membuatku merasa puas untuk terus berada disamping kamu. Bahkan jika ku hanya memiliki waktu 6 menit, karna pengalaman hatiku untuk mencintaimu adalah pengalaman terperih yang paling aku sukai. 


Menit pertama. Aku melihatmu untuk pertama kali dan demi Tuhan kamu sungguh sebuah kesempurnaan yang tak terkira.


Kita berdua bertemu karena kupikir memang Tuhan yang menyuruhmu untuk menemuiku. Entah mengapa aku merasa bahwa kita berdua memang diharapkan untuk bersama. Dan dengan segala cara akhirnya kebersamaan kita mulai bermakna. Perlahan aku sadar jika sosokmu yang selama ini mengganggu ternyata juga membutuhkanku.
Aku melihat kita berdua menghabiskan hari dan pelukan bersama-sama. Aku melihat kita jalan bergandengan tangan bagaikan sepasang kekasih yang sedang berbahagia. Dan aku juga melihat diriku tersenyum gila tanpa alasan dan terus-terusan berkata sendirian,“This is something big. This is going to ruin me.”

Menit kedua. Kita mulai merasa bahwa kita berjalan ke arah yang sama, ke arah yang semua orang pasti pernah mengalaminya.


Aku melihat sedikit percikan api namun tak begitu berarti. Nampaknya kita berdua terlalu bahagia dan tak mampu lagi untuk menjaga kepala agar tetap pada tempatnya. Aku membaca pesan-pesan manis yang pernah kamu kirimkan dan aku melihat sosok pria yang selalu berusaha untuk membahagiakan, pria cerdas yang begitu indah untuk dilupakan begitu saja.
Rintik detik yang begitu cepatnya berlalu membuatku tersadar bahwa sebenarnya kita berdua belum siap untuk menyambut segalanya bersama-sama.

Menit ketiga. Mulai kulihat perubahanmu yang terlalu kentara. Betapa sekarang kita mulai berbeda.


Nyatanya keterpaksaan ini hanya mampu kujalani seorang diri. Aku melihat sebuah tanda tanya pada hal-hal sederhana yang sebenarnya tak perlu untuk diperdebatkan, menjadi sebuah masalah yang begitu hebat.
Entah apa yang sedang terjadi pada dirimu, kurasa hanya kamu yang tahu. Mungkin ini sudah menjadi bagianku untuk pergi dan berlalu.

Menit keempat. Mungkinkah ada yang baru yang menemukanmu di saat yang tepat. Saat dia memelukmu, apakah dia merasakan jejak jemariku yang selama ini lekat?


Adakah yang lebih menyiksa? Kurasa tidak.
Terlepas dari apa yang pernah kita perjuangkan, mungkin ia yang kini hadir lebih membuatmu bahagia dari apa yang seharusnya kulakukan. Kita selalu saja berusaha untuk saling membuktikan bahwa kesalahan-kesalahan ini benar adanya tanpa mempedulikan bahwa ada hal yang lebih pantas untuk dipertahankan.
Untukmu (jika memang ada) yang kini mengisi hatinya; terima kasih karena memberiku alasan untuk melalui menit keempat dengan bijaksana.

Menit kelima. Kau ucapkan selamat tinggal pada harapan-harapan kita. Barangkali kita memang tak baik bersama. 


Air mata memang tak pernah minta ditumpahkan meskipun kepedihan sangat terasa. Namun hati ini selalu saja memaksa untuk memecah bendungan kesabaran. Air mata memang tak pernah meminta untuk dikeluarkan meskipun suasana sangat memaksa. Namun hati tetap saja tak mampu untuk menahan desakan luka yang sebenarnya tak pernah benar-benar ada.
Melihat harapanku pupus begitu saja tak pernah mudah adanya. Setelah menit ini berlalu, aku akan berjanji padamu untuk selalu belajar melepas asa.


Menit keenam. Aku bisa saja tak lagi ada di sana. Tapi yakinlah aku selalu ada.


Terlepas dari segala luka, perasaan, dan pertanyaan yang tak akan pernah terjawab, aku melihat adanya warna yang selama ini ku lihat hanya ada pada senja sekarang mulai tergurat di wajahmu. Cerah dan menyala. Warna yang selama ini tak pernah ada ketika kita bersama kini mulai terlihat.
Ingin rasanya aku ikut berlari bersamamu, berteriak agar kau kembali, memeluk tubuhmu agar kau selalu tahu aku ada di sini. Namun bahasa yang tersisa dari ku hanyalah rasa. Entah bagaimana caranya agar rasa ini bisa bersuara ketika raga tak lagi ada.
Aku hanya ingin merengkuhmu. Memberitahumu bahwa aku akan selalu ada.

Dentang jam untuk yang ke duabelas kalinya semakin memaksaku untuk melepasmu. Aku berjanji tidak akan pernah menangis lagi. Satu-satunya rasa yang tersisa hanyalah kata-kata yang terlanjur melekat. Dan kali ini aku tak akan mengucapkannya seperti sebuah perpisahan, namun bukan juga sebagai perjumpaan, namun lebih sebagai kesadaran.
Hari sudah resmi berganti. Dan saatnya aku mulai menata hati.
Kemudian aku sadar, bahwa enam menit ini begitu singkat untuk kita berdua.


ARTI DARI KEHILANGAN

Pada akhirnya, aku mengerti tentang arti sebuah kehilangan. Sebuah proses kehidupan yang memang 'seharusnya' aku jalani. Sebuah keadaan yang membuatku menemukan banyak hal lain dalam hidupku. Barangkali, aku tidak akan setegar ini. Jika saja, aku tidak kehilangan ayah dan ibuku. Mungkin, aku tetap akan menjadi anak manja yang terus menggantungkan hidupku kepada mereka. Akan terus-menerus menyusahkan mereka. Dan.... membebani mereka sepanjang usianya.

Mungkin aku tidak akan sekuat ini. Jika saja, aku tidak kehilangan 'KAMU'. Dan satu hal yg aku mengerti. Kebahagiaan ku tidaklah bersumber dari seseorang. Karena ternyata, aku bisa bahagia tanpa perlu menggantungkan rasa senang ku pada siapa pun. Aku.. masih sanggup, membahagiakan diriku sendiri. 

Kehilangan... membuatku menjadi jauh lebih kuat. Berusaha untuk tak terpuruk. Dan membuatku menyadari satu hal. 
Bahwa hidup bukan hanya tentang kata 'seharusnya'. Hidup bukan hanya yg kita inginkan saja. Tapi gimana caranya, supaya kita menjadi lebih pintar mengubah sesuatu yg datang pada kita. Menjadikannya sesuatu yg bisa kita manfaatkan dengan baik. Sekalipun, itu bukanlah hal yg kita harapkan.